Mengatasi Tantangan Akustik Masjid yang Luas dan Mudah Bergema

Pada tanggal 3 Januari 2023, saya mendapatkan telepon dari sebuah nomor yang belum saya kenal. Beliau memperkenalkan diri sebagai Pak EED dan menyampaikan bahwa beliau mendapatkan nomor saya dari Pak Yuda, salah satu pengurus Masjid Raudhatul Jannah.

Dalam percakapan tersebut, beliau menyampaikan bahwa Masjid Ar Rahim yang berada di Jalan Hangtuah, Kelurahan Rejosari, Kecamatan Tenayan Raya, Kota Pekanbaru, sedang membutuhkan instalasi soundsystem. Masjid tersebut rencananya akan segera diresmikan, sekitar satu atau dua minggu sebelum bulan Ramadan.

Dari informasi yang saya terima, Masjid Ar Rahim merupakan masjid yang dibangun oleh mantan Sekretaris Daerah Provinsi Riau, Bapak Wan Syamsir Yus, sebagai amanah dari almarhumah istrinya dan dibangun bersama oleh anak-anak almarhumah. Masjid ini juga direncanakan untuk diresmikan oleh Gubernur Riau saat itu, Bapak Syamsuar.

Karena itu, tentu saja pihak pengurus menginginkan hasil instalasi soundsystem yang sebaik mungkin, namun tetap dengan biaya yang masuk akal.

Tampak depan Masjid Ar Rahim, Jl. Hangtuah Ujung, Pekanbaru

Survei ke Masjid Ar Rahim

Saya kemudian melakukan survei langsung ke lokasi. Pada saat itu, pembangunan Masjid Ar Rahim sudah hampir selesai. Bangunan masjid terlihat megah, memiliki ukuran yang cukup luas, serta memiliki kubah yang cukup besar.

Namun, dari sisi instalasi soundsystem, kondisi seperti ini memiliki tantangan tersendiri. Masjid dengan ruangan yang luas, permukaan keras, dan kubah yang besar memiliki risiko pantulan suara yang tinggi. Jika sistem soundsystem dipasang tanpa perhitungan yang tepat, suara dapat terdengar menggema, tidak jelas, dan sulit dipahami oleh jamaah yang berada di bagian belakang.

Dalam instalasi soundsystem masjid, suara yang keras belum tentu berarti suara yang baik. Yang lebih penting adalah bagaimana suara dapat terdengar jelas, merata, dan nyaman di seluruh area masjid.

Setelah melakukan survei, saya berdiskusi dengan pengurus masjid, termasuk Bapak Wan Syamsir Yus. Setelah itu, saya meminta izin untuk pulang dan menghitung kebutuhan soundsystem yang sesuai untuk Masjid Ar Rahim.

Awalnya Saya Hanya Menyerahkan Rincian Kebutuhan

Keesokan harinya, saya mengirimkan rincian kebutuhan soundsystem kepada Pak EED melalui WhatsApp. Pada awalnya, rencana saya adalah pihak masjid membeli sendiri peralatan yang dibutuhkan, sedangkan saya membantu dalam perencanaan dan instalasi sistem perkabelan speaker.

Saat itu, kesibukan saya cukup padat. Karena itu, saya tidak berencana untuk menangani seluruh proses pengadaan peralatan. Namun, Pak Wan Syamsir meminta agar seluruh proses tersebut saya yang tangani. Beliau ingin pihak masjid menerima hasil akhirnya saja — tidak perlu repot mencari dan membeli satu per satu peralatan yang dibutuhkan.

Setelah mempertimbangkan kondisi tersebut, akhirnya saya menyanggupi untuk menangani seluruh proses instalasi soundsystem Masjid Ar Rahim.

Memilih Speaker untuk Masjid yang Mudah Bergema

Untuk bagian dalam masjid, saya memilih menggunakan empat unit speaker slim array TOA ZS-S60CW. Speaker jenis ini sangat cocok untuk ruangan yang memiliki risiko gema cukup tinggi. Sistemnya dibagi menjadi dua zona:

  • Dua speaker di bagian depan masjid
  • Dua speaker di bagian belakang masjid

Pembagian zona seperti ini membantu suara dapat disebarkan secara lebih terarah dan merata.

Bagian dalam Masjid Ar Rahim dengan speaker slim array TOA terpasang di pilar

Di area depan imam, saya juga menambahkan satu unit speaker monitor TOA ZS-1030W. Speaker monitor ini berfungsi agar imam dapat mendengar suara dengan jelas ketika sedang memimpin salat atau kegiatan lainnya. Dengan adanya speaker monitor, imam tidak hanya mengandalkan suara pantulan dari speaker utama.

Sistem Speaker untuk Teras dan Area Luar Masjid

Selain bagian dalam masjid, area teras juga perlu diperhatikan. Untuk area teras, saya memasang dua unit speaker TOA ZS-1030W agar jamaah yang berada di teras tetap mendapatkan suara yang jelas dan nyaman didengar.

Sementara itu, untuk area luar masjid, saya menggunakan empat unit speaker TOA ZH-5025BM. Dengan pembagian sistem seperti ini, setiap area dapat memiliki sistem penyebaran suara yang lebih sesuai dengan kebutuhannya. Sebab, kebutuhan suara di dalam masjid tentu berbeda dengan kebutuhan suara di teras maupun area luar.

Menggunakan Mixer Digital Soundcraft Ui12

Untuk mixer, saya memilih Soundcraft Ui12. Bagi yang familiar dengan dunia audio profesional, Soundcraft merupakan salah satu brand yang sudah sangat dikenal. Bahkan, sistem mixer Soundcraft juga digunakan dalam sistem audio di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi.

Tentu saja, tipe yang digunakan di sana berbeda. Masjidil Haram menggunakan Soundcraft Vi Series yang merupakan mixer digital profesional dengan harga yang tentunya sangat jauh berbeda. Namun, untuk masjid dengan kebutuhan yang lebih sederhana, Soundcraft Ui12 menjadi salah satu pilihan yang menarik. Saya tidak di-endorse oleh Soundcraft, ya. Hehehe.

Mixer Soundcraft Ui12 dan deretan amplifier TOA per zona: teras, shaf depan, shaf belakang & mic imam, serta adzan

Menurut saya, salah satu kelebihan Soundcraft Ui12 adalah kita bisa mendapatkan mixer dari brand besar dengan harga yang relatif terjangkau dibandingkan banyak mixer digital lainnya. Dengan harga sekitar Rp5 jutaan pada saat itu, kita sudah mendapatkan mixer digital dengan fitur yang cukup lengkap, seperti:

  • Digital EQ pada setiap channel
  • Noise Gate
  • Kompresor
  • AFS atau Anti-Feedback System
  • Berbagai pilihan efek
  • Pengaturan audio melalui laptop, tablet, atau smartphone

Untuk kebutuhan soundsystem masjid, fitur-fitur seperti ini sangat membantu dalam mendapatkan suara yang lebih bersih, jelas, dan mudah dikontrol.

Instalasi Selesai dan Hasilnya Memuaskan

Rack soundsystem Masjid Ar Rahim tertata rapi: stabilizer Ashley, mixer, dan amplifier TOA per zona

Setelah seluruh peralatan terpasang dan sistem selesai dikonfigurasi, tiba saatnya melakukan pengujian. Para pengurus masjid kemudian mendengarkan hasil suara dari sistem soundsystem yang telah dipasang.

Alhamdulillah, hasilnya mendapatkan respons yang baik. Suara terdengar jelas dan penyebarannya dapat menjangkau area-area yang telah direncanakan. Para pengurus masjid pun merasa puas dengan hasil instalasi tersebut. Tidak lama setelah itu, Masjid Ar Rahim akhirnya diresmikan oleh Gubernur Riau saat itu, Bapak Syamsuar.

Tiga Tahun Lebih Setelah Instalasi

Salah satu hal yang cukup menarik dari proyek ini adalah sistem soundsystem tersebut hingga sekarang masih dapat digunakan dengan baik. Sudah lebih dari tiga tahun sejak instalasi dilakukan, dan suara yang dihasilkan tidak banyak berubah dibandingkan dengan saat pertama kali sistem tersebut selesai dipasang.

Bagi Anda yang ingin mendengarkan langsung hasil instalasi saya, Anda dapat datang ke Masjid Ar Rahim di Jalan Hangtuah, Rejosari, Tenayan Raya, Kota Pekanbaru, dan mendengarkan sendiri bagaimana suara soundsystem masjid tersebut.

Soundsystem Masjid Bukan Sekadar Memasang Speaker

Dari pengalaman pemasangan Masjid Ar Rahim, kita dapat melihat bahwa instalasi soundsystem masjid bukan hanya sekadar membeli speaker, memasang kabel, kemudian menyalakannya. Setiap masjid memiliki kondisi yang berbeda: ada yang ruangannya luas, ada yang berkubah besar, ada yang mudah bergema, ada yang memiliki banyak area teras, dan ada pula yang membutuhkan sistem audio untuk area luar.

Karena itu, pemilihan speaker, posisi pemasangan, pembagian zona, pengaturan mixer, dan proses tuning harus dipertimbangkan dengan baik.

Soundsystem yang baik bukanlah soundsystem yang paling keras. Soundsystem yang baik adalah soundsystem yang membuat suara imam, khatib, ustaz, dan pengumuman masjid dapat terdengar jelas oleh jamaah — dari shaf pertama hingga shaf paling belakang.